Mengharap Bintang di Langit

By VianSofyansyah - March 10, 2018

Pesawat Vimy teke-off
Cuaca pada musim dingin memang kurang menguntungkan bagi penerbangan. Hujan salju yang turun ke bumi betul-betul menghalangi pandangan. Apalagi ada angin kencang, penerbangan tidak mungkin dilakukan.

Butir - butir salju yang menempel pada permukaan sayap dan badan pesawat sering menutup bagian-bagian penting yang seharusnya bergerak. Aileron bisa tak berfungsi. Begitu pula salju yang menyekat lubang pipa penghisap udara untuk pembakaran, bisa menyebabkan mesin tidak bekerja normal. Peristiwa seperti itu dialami John Alcock dan Arthur Whitten Brown ketika keduanya ikut lomba terbang lintas Atlantik tahun 1919.

Pesawat pengebom yang diawaki Alcock dan Brown saat itu memang tidak dilengkapi dengan instrumen yang hebat. Radio navigasi satu-satunya yang diharapkan bisa menjadi penuntun arah, mendadak tidak berfungsi. Lalu untuk menentukan arah utara-selatan, mereka mengharapkan bintang-bintang di langit.

Saat Alcock dan Brown mengawaki pesawatnya, tantangan cuaca begitu berat. Hampir separuh dari perjalanannya berada di antara awan-awan hitam dan kabut tebal. Ia selamat karena menyatu dengan awan. Ketika lepas dari awan mereka malah terperangkap awan hitam sebelum terlempar dari ketinggian 6.000 kaki ke 500 kaki. Vimy sempat terputar beberapa kali dan nyaris celaka ditelan gelombang lautan. Untung Alcock, mantan penerbang pesawat pengebom itu cepat bereaksi sehingga pada saat kritis, pesawatnya masih bisa dikendalikan. Vimy mengudara lagi, tapi maut masih saja mengintai.

Ketika pesawat Alcock mendarat di tempat tujuan, pesawatnya menghujam bumi, badan patah dua dan sayap patah sebelah. Alcock dan Brown selamat. Mereka kemudian tercatat dalam lembaran sejarah penerbangan sebagai orang pertama yang berhasil melintasi samudera Atlantik nonstop menggunakan pesawat pengebom Vimy. Mereka terbang selama hampir 16 jam menempuh jarak 1.900 mil dari dari St. John Newfoundland, Amerika Serikat ke Clifden, Irlandia.

Peristiwa itu terjadi tahun 1919 - delapan tahun lebih awal dari penerbangan lintas Atlantik Lindberg dengan Spirit of St. Louis. Tapi kiatnya sendiri sudah ada sejak tahun 1913. Kalau saja tidak pecah perang, lomba sudah berlangsung enam tahun lebih awal.

Bermula dari lomba
Peristiwa unik yang mengawali petualangan John Alcock dan Whitten Brown bermula dari pengumuman surat kabar Daily mail terbitan April 1913. Dalam berita itu ditawarkan hadiah sebesar 10.000 poundsterling kepada siapa saja yang berhasil melintasi lautan Atlantik nonstop dari satu tempat di AS, Kanada, atau Newfoundland ke suatu tempat di Inggris atau Irlandia dalam batas waktu 72 jam, terhitung sejak bendera start dikibarkan.

Penerbangan diperkirakan memakan waktu sekitar 20 jam dan selebihnya untuk persiapan. Peserta menentukan sendiri jam keberangkatannya sesuai dengan perhitungan waktu yang mereka tentukan. Saat itu cuaca memang belum cerah. Mereka harus sabar menunggu saat tepat yang diperkirakan bakal tiba 1-2 hari mendatang. Untung-untungan memang, karena itu, penerbangan lomba.

Hadiah disediakan Lord Northcliffe, pengusaha koran Daily News. Jumlah hadiah itu terus bertambah setelah pembacanya ikut menyumbang sukarela. Iklan di Daily News mendapat sambutan besar, tidak hanya di Inggris, juga di Perancis, Italia, Belanda, bahkan AS, dan Kanada. Pendaftaran dibuka pertengahan tahun 1913 dan berakhir awal Desember tahun yang sama. Belasan pionir penerbangan ikut mendaftar. Mereka umumnya dari industri-industri penerbangan. Sebab pesawat yang digunakan memang harus hasil rancangannya sendiri.

Vicker saat itu sedang merancang pesawat pengebom yang dinamakan Vimy. Pesawat itu yang kemudian didaftarkan sebagai peserta lomba lintas Atlantik.

Dari belasan peserta, setelah diseleksi kemampuan teknis pesawat, akhirnya hanya sembilan grup yang memenuhi syarat. Dari sembilan, gugur lima lantaran pesawat belum siap uji terbang pendahuluan. Keempat peserta adalah grup dari Sopwitch Atlantik yang menampilkan Hawker dan Mackenszie sebagai awak pesawatnya. Kemudian grup Martinsyde Raymor menampilkan pilot Raynham dan kopilot Morgan. Sementara grup Handley Page Atlantic mencalonkan Laksamana Mark Kerr, Breckley dan Grand. Grup Vicker mencalonkan Kapten John Alcock dan Letnan Arthur Whitten Brown - Keduanya mantan AU dan AL RAF. Saat calon peserta sibuk menyelesaikan persiapan, beberapa negara Eropa terseret ke dalam kancah perang dunia. Karena itu lomba terpaksa dihentikan sementara, dijanjikan akan dilanjutkan setelah usai perang.

Bulan Juli 1918, Lord Northcliffe menghidupkan lagi lomba yang pernah terhenti. Pundi-pundi hadiah dibuka kembali. Kali ini hadiah yang ditawarkan lebih besar dari sebelumnya. Hadiah masih diperkuat lagi dari segi sponsor yang membuat para calon peserta makin beringas. Sebagai panitia lomba sekaligus koordinator pelaksana, ditunjuk sebuah klub terpercaya, Royal Aero Club.

John Alcock yang juga sering dipanggil Jack, lahir di Manchester tahun 1892. Anak seorang pelukis ini telah mengantongi lisensi terbang tahun 1912. Ketika pecah perang dia bergabung dalam skadron udara AL (Royal Naval Air Service). Di sini dia menekuni profesi sebagai penerbang pengebom sampai pangkat kapten. Sebelum pesawatnya tertembak jatuh, ia berulang kali mendapat penghargaan lantaran sukses melakukan pengeboman di wilayah lawan. Pesawatnya tertembak jatuh, dia tertangkap dan dipenjarakan di Turki lebih dari setahun.

Baru tahun 1917 dia mendapat repartsi. Tak lama kemudian dia bergabung dengan tim Vicker yang saat itu mencari penerbang pengebom untuk menerbangkan pesawat Vimy.

Arthur Whitten Brown atau Teddy yang kemudian juga bekerja pada Vicker, mempunyai sifat yang berbeda dengan Alcock. Profil wajahnya agak kekanak-kanakan. Namun ia sebenarnya seorang humoris yang berpenampilan tenang. Arthur juga pintar dalam bidang astronomi. Anak seorang pelaut ini paling senang membaca buku-buku teknik. Penampilannya gagah. Meski agak pemalu, tapi ia tidak kaku dalam pergaulan.
Vimy terjatuh
DICEMOOH - Vimy nyungsep di Clifden, Irlandia. Seorang tentara lokal sempat jadi bahan olok-olok ketika diceritakan Vimy baru saja terbang di Atlantik
Whitten Brown dilahirkan 1886 dari keluarga AS yang hijrah ke Manchester. Ketika pecah perang, dia bekerja sebagai teknisi di Afrika Selatan. Setelah kembali ke Inggris, dia masuk dinas militer dan mendapat tugas di bagian infanteri. Sewaktu terjadi perang Ypres tahun 1915, dia diperbantukan di Royal Flying Corps. Beberapa tahun dia menekuni bidang ini, sebelum pesawatnya tertembak jatuh. Dia terluka dan tulang kaki kirinya patah. Brown sempat ditangkap dan kemudian dipenjarakan selama dua tahun.

Pada Maret 1919, Brown diwawancarai oleh Bicker di Weybridge tentang pengalamannya selama menjadi tawanan perang. Mengaku sering berkhayal bernavigasi dan terbang. Mendengar pengakuan Brown, Percy Maxwell-Muller, manajemen Vicker menawarkan jasa, mengajak bergabung di Vicker. Brown kemudian dibawa ke hangar pesawat Vicker tempat Vimy dipersiapkan. Di hangar itu dia berkenalan dengan John Alcock yang kemudian menjadi partner dalam lomba terbang lintas Atlantik.

Menyiapkan pesawat
Pesawat pengebom yang disiapkan Alcock di hangar Vicker itu merupakan pesawat pengebom rancangan Vicker bersama perancang muda penuh ambisi, Rex Pierson. Pesawat Vimy yang bersayap ganda berbobot kosong 7.000 pon, mampu membawa bahan bakar sebanyak 860 gallon dan 50 gallon minyak pelumas. Dengan bahan bakar sebanyak itu, Vimy mampu terbang sejauh 2.440 mil, membawa bom seberat 12.500 pon, dengan kecepatan terbang rata-rata 100 mil per jam, kecepatan tanjak 90 mil per jam dan kecepatan mendarat 45 mil per jam. Pesawat ini ditenagai mesin Rolls Royce, Eagle.

Pengebom Vimy yang dipersiapkan untuk penerbangan Atlantik mengalami beberapa perubahan terutama pada gigi peluncur bom - diganti dengan kait untuk tangki cadangan bahan bakar. Tangki cadangan ini dijadikan sebagai pengganti berat bom yang biasa dibawa Vimy. Kapasitas tangki bahan bakar 860 gallon dan minyak pelumas cadangan 50 gallon, cukup untuk menempuh jarak 2.440 mil. Dengan tangki cadangan, berat Vimy menjadi 13.300 pon. Tangki cadangan ini dipasang menggantung di bawah sayap pesawat sekaligus berfungsi sebagai pelampung.
"PENGEBOM VIMY YANG DIPERSIAPKAN UNTUK PENERBANGAN ATLANTIK, MENGALAMI BEBERAPA PERUBAHAN TERUTAMA PADA GIGI PELUNCUR BOM.... DENGAN TANGKI CADANGAN, BERAT VIMY MENJADI 13.000 PON."
Dengan demikian pesawat pengebom Vimy tampak seperti pesawat intai. Teknisi Vimy tanggap terhadap bahaya yang mengancam penerbangan spektakuler ini. Oleh karena itu di bagian ekor diberi tambahan kotak untuk menyimpan bahan makanan dan obat-obatan. Tambahan kotak kecil itu menyebabkan Vimy tampak unik.

Pemodifikasian juga dilakukan pada kokpit, mengubah kedudukan kursi dari tandem ke side by side. Terakhir yang dilakukan para teknisi adalah menguji kemampuan mesin Rolls Royce Eagle VIII yang dimodifikasi exhaust-nya
Kapten John Alcock dan Letnan Arthur Whitten Brown
PERALATAN NAVIGASI - Dari kiri ke kanan: Kapten John Alcock, Letnan Arthur Whitten Brown, serta dua personel pendukung penerbangan trans-Atlantik Vimmy. Yang merepotkan ketika itu belum ada peralatan navigasi.
Siap Berangkat
Ketika Vimy akan diberangkatkan, baru disadari bahwa lapangan rumput sepanjang 400 yard yang disediakan Vicker di Quidi Vidi ternyata tidak dapat dipakai untuk tinggal landas. Soalnya Vimy sekarang bukan Vimy yang dulu lagi. Bobotnya bertambah 1.000 pon dari semula, termasuk bobot tangki cadangan yang digantung di bawah sayapnya sehingga penampilan Vimy persis seperti pesawat flying boat.

Landasan pacu Quidi Vidi batal sebagai tempat pemberangkatan. Sebagai penggantinya, digunakan tanah lapang milik Lester, pengusaha terkenal di Munday Ponds. Lapangan rumput ini kemudian diubah jadi landasan pacu oleh lebih dari 30 pekerja Vicker.

Tanggal 9 Juni 1919, Vimy diterbangkan tanpa tangki cadangan dari Quidi Vidi ke Munday Ponds. Di sana tangki cadangan bahan bakar dipasang. Setelah siap, pesawat ditempatkan di ujung landasan sambil menunggu cuaca membaik.

Lima hari kemudian angin mulai mereda, cuaca lebih cerah. Alcock dan Brown masih ada di pesawatnya. Sementara Maxwell-Muller dan Eric Platford dan tim Vicker yang bekerja semalam suntuk membantu mempersiapkan keperluan Alcock dan Brown.

Matahari pagi mulai memancarkan sinarnya dan angin barat berhembus sepoi, menandakan cuaca bakal cerah. Letnan Clement, salah seorang ahli cuaca yang bekerja untuk Vimy meramalkan angin barat akan bertiup di atas lautan Atlantik dan cuaca di sepanjang rute penerbangan cerah.

Siang itu wajah Alcock dan Brown tampak cerah, secerah cuaca yang mulai menerangi kawasan St. John. Ketika Alcock usai membenahi pesawatnya, Brown masih memasang alat navigasi di pesawatnya. Disaat mereka sibuk berbenah, pesawat pengebom Handley Page yang juga ikut lomba melintas di atasnya. Pesawat itu diawaki Laksamana Mark Kerr dan Brackley. Ketika itu Alcock dan Brown sibuk mengatur posisi pesawatnya di landasan pacu. Bersamaan dengan usainya pekerjaan itu, di kejauhan tampak orang berdatangan laki-laki, perempuan, anak-anak, remaja, orang tua berbondong-bondong menyaksikan jago-jago andalannya.

Pukul 13.30, Alcock menghidupkan mesin pesawatnya. Deru mesin tidak hanya menggetarkan badan pesawat tetapi juga hati penonton yang berjubel di tepi landasan pacu. Saat Alcock menarik throttle ke belakang, Brown mengamati jarum-jarum indikator di kokpit. Setelah yakin semua oke, Alcock memberi tanda dengan jempol tangan, siap berangkat.
"PUKUL 13.30, ALCOCK MENGHIDUPKAN MESIN PESAWAT. DERU MESIN TIDAK HANYA MENGGETARKAN BADAN PESAWAT TETAPI JUGA HATI PENONTON YANG BERJUBEL DI TEPI LANDASAN PACU"

Tak lama kemudian roda pesawat Vicker Vimy mulai bergerak. Mula-mula pelan, makin lama makin cepat. Saat Roda pesawatnya terangkat dari landasan rumput, terdengar tepuk sorak penonton yang mengasyikkan dari kejauhan. Pesawat melesat dengan cepat, mengudara dan akhirnya lenyap dari pandangan mata penonton. Mereka tampak bangga bercampur was-was, khawatir pesawat yang dijagokan jatuh.

Sementara itu Alcock dan Brown melirik ke bawah sambil mengatur ketinggian pesawatnya sebelum belok ke lintasan penerbangan yang ditetapkan. Yang menyambut Alcock bukan hanya para penonton yang ada di tempat pemberangkatan, tapi juga mereka yang saat itu berada di pelabuhan St. John. Perahu-perahu kecil berderet membentuk suatu tanda ucapan, selamat berjuang.

Ucapan itu memang tepat, sebab terbang di atas lautan Atlantik yang amat luas memerlukan tekad kuat, semangat tinggi, dan keberanian yang memadai. Bisa dibayangkan bagaimana Alcock dan Brown yang berada di pesawat memasuki gumpalan kabut tebal. Begitu tebalnya kabut sampai-sampai ujung sayap pesawat tidak terlihat dari kokpit.

Brown lalu memutuskan untuk menggunakan radio navigasi untuk mencari arah dan menentukan posisi pesawat. Apa yang terjadi? Brown gagal, lantaran kabel dinamo lepas. Brown agak kecewa, lalu dimintanya Alcock untuk mendongakkan pesawat pada sudut tertentu. Maksudnya agar dia dapat melihat bintang-bintang di langit saat malam nanti tiba. Brown akan bernavigasi, menggunakan bintang-bintang. Apa boleh buat.

Apa yang kemudian terjadi, sungguh mengejutkan. Begitu Alcock melakukan bank sesuai yang diharapkan, Brown mendengar suara aneh dari mesin pesawat. Suara itu disusul dengan sinar merah yang bersumber dari exhaust yang menyala. Lalu terdengar bunyi raungan keras mesin pesawat. Pipa knalpot mesin (exhaust) membara dan terlepas dari mesin. Anehnya, begitu knalpot lepas bunyi mesin jadi lebih halus. Alcock dan Brown keheranan, sebelum mereka secara bersamaan berteriak kegirangan sambil mengucapkan yel-yel syukur pada tuhan, "Thanks God for Rolls Royce".

Kapten Ross Smith dan Letnan E. Mustar
7.000 PON - Kapten Ross Smith (kiri) dan observer Letnan E. "Pard" Mustar di penempur Bristol. Sementara Vicker Vimy dirancang Vicker dan Rex Pierson. Pesawat berbobot 7.000 pon itu mampu terbang sejauh 2.440 mil.
Nyaris kecebur laut
Awan-awan mulai membasahi kacamata penahan angin yang dikenakannya. Bahkan instrumen-instrumen di pesawatnya mulai mengeluarkan embun dan itu berlangsung terus selama empat jam sejak pesawat mencapai ketinggian 6.000 kaki. Mereka mempertahankan ketinggian dan kecepatan serta berusaha untuk tetap pada jalur penerbangan.

Penerbangan malam yang pertama kali dilakukan Alcock dan Brown ini memberi banyak pelajaran berharga bagi dunia penerbangan. Misalnya, timbul ide alat pemanas listrik yang bisa menghangatkan baju terbang. Saat itu memang terasa sekali perlu alat untuk mengimbangi dinginnya udara di luar kanopi yang terasa sampai ke dalam.

Penerbangan yang dilakukan Alcock dan Brown sudah delapan jam dan selama itu mereka masih terbang dalam kerumunan awan-awan tebal yang membosankan. Ketika pesawat keluar dari awan, dengan cepat Brown mencari-cari bintang di langit, sebagai upaya menemukan posisi pesawatnya. Brown memperkirakan pesawatnya telah melewati titik yang mereka sebut sebagai  point of no return. Tapi itu belum berarti bahwa bahaya sudah tidak ada. Sebab ruang dimana pesawatnya berada, awan-awan kumulonimbus bertebaran di mana-mana.

Awan-awan kumulus yang biasa menjadi tanda kemunculan topan, kini mengancam pesawat Vimy Alcock dan Brown. Sekalipun mereka telah berusaha untuk menghindari ancaman itu, sempat juga pesawatnya diguncang topan.

Tak urung Vimy stall, jatuh dari ketinggian 5.000 kaki ke 500 kaki, setelah itu pesawat roll beberapa kali. Saat itu jarak pandang nol sehingga kedua awak pesawat tidak dapat melihat apapun yang ada di depan pesawatnya.

Ketika kilatan petir menerangi tempat di sekitar pesawat, mereka pun tahu keberadaan pesawat hanya 100 kaki di atas permukaan laut. Bukan suatu keberuntungan jika Alcock berhasil mengangkat hidung pesawatnya saat tinggal 50 kaki dari gelombang. Vimy selamat lalu mengangkasa lagi.

Merayap di badan pesawat
Alcock mengarahkan pesawatnya ke Irlandia, bertahan pada ketinggian 6.000 kaki. Sampai saat itu mereka belum melihat tanda-tanda munculnya sinar matahari. Yang justru muncul di hadapannya malah titik-titik air yang mulai berubah wujud menjadi butir-butir salju. Sayap dan badan pesawat juga mulai memutih oleh salju. Pada ketinggian 9.000 kaki, mesin Vimy mulai ngadat. Setelah diteliti ternyata lubang pengisap udara tersumbat oleh salju. Brown berusaha membersihkan lubang itu dengan pisau SAR-nya. Ia merayap ke atas badan pesawat lalu mengorek salju di pipa pengisap udara.

Pekerjaan itu diulangi beberapa kali, bergantian mesin kiri kanan. Mesin lancar kembali. Tapi pekerjaan rayap-merayap belum usai karena Brown masih harus membersihkan aileron dari lapisan salju beku. Setelah itu aileron dapat digerakkan kembali. Sampai saat itu, matahari belum juga menampakkan diri. Lalu Alcock naik lagi di ketinggian 11.000 kaki. Beberapa saat kemudian seberkas sinar muncul di kejauhan, makin lama makin membesar. ketika itu Brown melihat kawasan di bawah pesawat, yang samar-samar membentuk daratan.
"KOKPIT VIMY MULAI DIPENUHI SALJU. SAYAP DAN BADAN PESAWAT JUGA MULAI MEMUTIH OLEH SALJU. PADA KETINGGIAN 9.000 KAKI, MESIN VIMY MULAI NGADAT.... IA MERAYAP KE ATAS BADAN PESAWAT LALU MENGOREK...."

"Tak salah lagi itu pantai Irlandia," pikir Brown. Mereka merasa agak lega, karena ternyata arah penerbangannya tidak melenceng sedikit pun, walau hanya menggunakan patokan navigasi alam terestial. Brown sedang mengamati jarum altimeternya saat Alcock menurunkan ketinggian pesawatnya dari 9.000 kaki ke 6.000 kaki. Setelah itu dia mematikan mesin pesawatnya dan Vimy meluncur bagai burung elang mengintai anak ayam.

Ketika altimeter menunjukkan angka 500, pesawat meluncur di angkasa yang cerah. Sekarang air laut tampak lebih jelas. Deburan ombak tampak berarak seolah menyentak Alcock agar menghidupkan kembali mesin pesawatnya. Mesin R.R. Eagle berputar normal. Beberapa saat kemudian dari ketinggian 500 kaki, tampak gugusan pulau Eshal dan Turbot. Vimy masih berputar-putar dia atas Connemara untuk mencari Clifden tempat yang ditentukan sebagai titik finish. Setelah melintas kawasan pantai, Vimy mengitari kota beberapa kali sebagai prosedur permisi masuk.

Saat itu Alcock dan Brown melihat ratusan penduduk melambaikan tangannya ke arah mereka. Vimy masih berputar-putar bagai elang mencari tempat pendaratan. Alcock melihat hamparan rumput hijau dekat sebuah stasiun radio, Marconi Transatlantic Wireless Station. Alcock mengarahkan pesawatnya ke hamparan rumput itu. Tapi mesin terlanjur dimatikan sehingga tidak ada daya penahan dan brrraaak..... Vimy tak terkendalikan dan menghujam ke tanah lapang.

Badan pesawat patah dua. Ajaibnya Alcock dan Brown selamat, tak terluka sedikit pun. Ratusan penduduk yang menyaksikan kejadian itu berlari mendekati pesawat Vicker Vimy yang terjungkal tak jauh dari stasiun radio. Saat mereka datang, Alcock dan Brown sudah berada di luar pesawat berdiri tegak di sisi pesawatnya.

"Where are you from?" Salah seorang dari mereka bertanya.

"America," jawab Alcock sambil mengambil tas kecil berisi selebaran bertuliskan Newfoundland.

"Demi Jesus, mereka benar-benar datang," komentar mereka keheranan melihat kenyataan yang semula tak terbayangkan.

Pada kesempatan itu Alcock menyataan kepada salah seorang penduduk, apa ada pesawat lain yang datang lebih dahulu - Handley Page. Oleh mereka dijawab, belum ada. Berarti Alcock dan Brown memang yang pertama tiba di tempat tujuan, Clifden, Irlandia. Hampir bersamaan, Alcock dan Brown berteriak keras sambil mengangkat tangan kanan mereka berucap, "we really are the first," katanya bangga. Mereka memang pantas untuk berbangga setelah berhasil menerbangi kawasan laut Atlantik sejauh 1.890 mil menghadapi tantangan cuaca yang berat selama 15 jam 57 menit.

Lima hari setelah pendaratannya, Alcock dan Brown menerima hadiah khusus dari Winston Churchill di Savoy dan tiga hari kemudian mereka menerima anugerah tanda kehormatan dari Raja George V. Pemberian hadiah berlangsung di Kastil Windsor dalam suatu upacara kebesaran gereja.

Petualangan John Alcock dan Whitten Brown telah membuktikan kepada dunia, lautan bukan lagi halangan bagi penerbangan. Beberapa tahun kemudian benar-benar muncul pesawat angkut komersial pertama, Imperial.
"LIMA HARI SETELAH PENDARATANNYA, ALCOCK DAN BROWN MENERIMA HADIAH KHUSUS DARI CHURCHILL. PETUALANGAN JOHN ALCOCK DAN WHITTEN BROWN TELAH MEMBUKTIKAN KEPADA DUNIA, LAUTAN BUKAN LAGI HALANGAN BAGI PENERBANGAN"

dikutip dari Budi Kutamsi - Buku Kisah Hebat di Udara 3

  • Share:

You Might Also Like

0 comments